“… Without well educated workers, nations cannot thrive in a globalized, knowledge-based economy…”

(From the Global Digital Divide to the Global Opportunity: Proposal Submitted to the G-8 Kyushu-Okinawa Summit 2000)

Kutipan diatas merupakan kunci sukses suatu negara dalam era globalisasi ini, yaitu dibutuhkannya sumber daya yang handal dari segi manusia ataupun fasilitas. Padahal Indonesia, daerah pedesaan persentasenya jauh lebih besar daripada daerah perkotaan. Yang berarti perekonomian Indonesia pun mayoritas dibawah garis kemiskinan.

Penyebab utama terjadinya digital divide antara dua kelompok ini adalah perekonomiannya. Tanpa ekonomi yang mendukung, penduduk di daerah pedesaan kurang memiliki edukasi yang baik, fasilitas yang memadai, begitu pula dengan aksesnya, khususnya di bidang teknologi informasi.

Maka kita sebagai mahasiswa, memperbaiki perekonomian rakyat secara langsung sangat sulit, maka untuk berperan mengurangi perbedaan teknologi tersebut adalah dengan kegiatan sosial, baik dari pemberdayaan manusia maupun memberikan fasilitas pendukung yang terjangkau oleh mahasiswa.

Kontribusi Mahasiswa

Mengapa mahasiswa? Karena pemerintah tidak akan sanggup bekerja sendiri, mereka pun butuh bantuan kita, sumber daya yang produktif, kritis dan aktif. Mahasiswa pun tidak bisa bekerja sendiri. Butuh dukungan dari pihak-pihak lain yang terkait.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa? Sebagai mahasiswa yang peduli, biasanya berkecimpung di dunia organisasi. Dalam suatu organisasi biasanya memiliki proker kerja tertentu yang ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Maka, khususnya sebagai mahasiswa teknik, kegiatan yang bisa kita lakukan adalah :

  • Pelatihan Komputer Gratis untuk masyarakat pedesaan, baik generasi muda maupun SDM yang bisa menyampaikan ilmunya kepada masyarakat umum lainnya yang berada di lingkungannya
  • Sosialisasi teknologi untuk masyarakat awam
  • Membuat desa binaan, khususnya untuk mengembangkan kemampuan teknologi informasi
  • Bekerja sama dengan perusahaan CSR (Corporate Social Responsibility) atau LSM terkait untuk menyediakan fasilitas dan akses teknologi serta membuat buku panduan mengenai teknologi terkait
  • Pelatihan bahasa Inggris jika memungkinkan karena banyak informasi pada internet yang menggunakan bahasa Inggris. Alternatif lainnya adalah membantu menyediakan informasi dalam bahasa Indonesia, karena informasi penting jarang tersedia dalam bahasa Indonesia

Untuk menyimpulkan berhasil tidaknya kita dalam mengurangi gap pada digital divide seharusnya dibuat semacam standar oleh pemerintah atau organisasi tertentu, sehingga hasil kerja keras SDM yang memiliki kemampuan seperti  mahasiswa menjadi tidak sia-sia dan terlihat pengaruhnya terhadap masyarakat.